• Bagaimana Penerjemah Seharusnya Menghadapi Masa Krisis Proyek?

    Berbeda dengan karyawan yang mendapatkan gaji dalam jumlah tetap setiap bulan, pekerja lepas (termasuk penerjemah juga) mendapatkan penghasilan fluktuatif yang selalu berbeda dan tidak menentu setiap bulannya. Bisa saja penerjemah mendapatkan total penghasilan Rp 15 juta di bulan Desember tapi malah mendapatkan hanya Rp 3 juta di bulan Januari. Mendapatkan penghasilan tinggi di satu bulan bukan berarti akan mendapatkan penghasilan tinggi terus setiap bulannya. Bahkan, setiap penerjemah pasti pernah mengalami masa krisis proyek ketika proyek terjemahan sangat suit didapatkan atau malah tidak mendapatkan satu proyek sama sekali dalam satu bulan. Masa krisis seperti ini memang harus disikapi dan dilalui dengan bijak, bukan melakukan hal yang bersifat merusak karena panik atau merasa putus asa.

    Dunia freelance memang penuh tantangan,terutama saat penerjemah melewati masa krisis dan kehilangan kliennya yang biasanya memberikan proyek secara rutin. Saat krisis seperti ini, mencari klien baru bisa menjadi solusinya tapi penerjemah perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk memikirkan strategi marketing baru untuk tawarkan jasa profesionalnya. Sebenarnya penerjemah tidak perlu report-repot mencari banyak klien baru asal bisa menemukan beberapa klien saja (lebih diutamakan perusahaan besar atau agensi penerjemah bergengsi) yang mau bekerjasama untuk jangka panjang. Mengeluarkan tenaga dan sumber daya lebih untuk memancing banyak klien individu (perseorangan bukan perusahaan atau lembaga) bukanlah pilihan ideal. Tetapi, penerjemah bisa menghemat biaya jika bekerjasama dengan agensi penerjemah yang punya jaringan tersendiri, sudah mapan, dan memberikan upah layak.

    Kehilangan klien bisa dihindari selama penerjemah mampu memberikan pekerjaan terbaik dan memuaskan. Jika klien merasa standar kualitasnya terpenuhi atau malah mendapatkan lebh darinya, mereka tidak akan sungkan untuk terus menggunakan jasa penerjemah dari orang yang sama dan merekomendasikannya ke relasinya. Secara otomatis, jaringan akan terbangun dan klien-klien baru akan datang dengan sendirinya.

    Membagun relasi, terutama sesama penerjemah lepas, juga menjadi hal yang tidak kalah pentingnya untuk dilakukan demi menghindari masa krisis. Relasi luas adalah investasi jangka panjang yang sangat penting bagi setiap penerjemah lepas. Dengan berteman dengan banyak penerjemah atau bergabung di suatu organisasi penerjemah baik lokal maupun internasional, penerjemah bisa membangun relasi yang dibutuhkannya untuk mendapatkan proyek-proyek baru. Penerjemah lepas biasanya tidak sungkan untuk berbagi proyek dengan sesama penerjemah jika dirasa proyek yang sedang dikerjakannya terlalu berat untuk diselesaikan sendiri. Saling berbagi proyek merupakan suatu hal yang lumrah bagi kalangan penerjemah.

    Hanya mengandalkan satu sumber penghasilan adalah hal yang berisiko terutama saat semua kebutuhan pokok semakin mahal. Penerjemah juga sebaiknya tidak mengandalkan penghasilannya dari menerjemahkan saja meskipun rupiah yang didapat cukup besar. Saat menghadapi masa krisis dan tidak mendapatkan satu proyek pun, penerjemah bisa mencari rupiah dari sumber penghasilan lainnya. Masa krisis proyek sebenarnya bukanlah hal yang sepenuhnya buruk. Dengan menggunakan waktu luang selama tidak menerjemahkan teks/dokumen apa pun, penerjemah bisa mengembangkan dirinya dengan belajar lebih banyak lagi mengenai dunia penerjemah atau meningkatkan keahlian bahasanya. Saat masa krisis ini juga, penerjemah juga bisa mencari ide bisnis baru yang bisa diandalkan untuk kebutuhan sehari-sehari selama proyek terjemahan kering.
  • 0 comments:

    Posting Komentar