• Seni Menolak Tawaran Proyek Terjemahan dari Klien

    Bekerja menjadi penerjemah lepas identik dengan kebebasan untuk menentukan pilihan. Yang dimaksud sebagai pilihan di sini adalah keputusan untuk memilih materi yang akan diterjemahkan, klien yang akan dilayani, dan jam kerja untuk menyelesaikan suatu proyek. Penerjemah bisa hanya menerima proyek terjemahan dari klien yang membayar mahal dan tingkat kesulitannya sedang. Penerjemah juga bisa menolak teks yang terlalu sulit dan berisiko tinggi dengan bayaran sedikit. Tidak benar jika ada anggapan bahwa bekerja sebagai penerjemah lepas harus selalu menerima semua tawaran proyek terjemahan dari klien mana saja. Ada keyakinan bahwa menolak pekerjaan sama seperti menolak rezeki.

    Penerjemah lepas berhak mengatakan ‘tidak’ pada klien yang tidak sesuai dengannya. Jika permintaan dari klien dirasa tidak wajar atau malah merugikan penerjemah pada akhirnya, penolakan adalah sebuah kewajiban.

    Kenapa penerjemah perlu berkata tidak pada calon kliennya?

    Teks tidak sesuai dengan keahlian
    Jika penerjemah mendapatkan tawaran proyek terjemahan yang teksnya tidak sesuai dengan keahliannya atau dirasa terlalu sulit baginya, penerjemah wajib menolaknya. Memaksakan diri untuk menerjemahkan suatu teks yang terlalu sulit atau kompleks malah membahayakan karier penerjemah itu sendiri. Jika hasilnya amburadul dan jauh di bawah ekspektasi klien, kegagalan tersebut mencoreng reputasi penerjemah dan bukan tidak mungkin klien yang kecewa mencegah datangnya klien-klien baru.

    Didesak deadline yang terlalu singkat
    Tidak jarang penerjemah menerima tawaran proyek terjemahan yang tenggat waktunya terlalu cepat atau tidak masuk akal. Menerjemahkan 100 halaman dalam sehari adalah hal yang mustahil bagi penerjemah. Bahkan jika terjemahannya dikerjakan secara keroyokan, editor tetap akan kewalahan karena harus mereview dan memoles 100 halaman terjemahan dalam sehari. Jika penerjemah didesak untuk kerjakan terjemahan dalam waktu yang terlalu singkat, penerjemah berhak menolaknya.

    Bayaran terlalu sedikit
    Jika klien menawarkan harga yang tidak sesuai dengan usaha dan waktu untuk selesaikan suatu proyek, penerjemah pun tidak perlu memaksakan diri untuk menerimanya. Untuk menentukan nilai suatu proyek terjemahan, penerjemah perlu mempertimbangkan harga pasaran sekaligus tarif acuan yang ada. Dengan mengetahui seberapa pantas dirinya dibayar, penerjemah bisa melakukan negosiasi harga dengan lebih efisien dan menolak tawaran yang terlalu murah jika perlu.

    Merasa tidak nyaman dengan klien
    Sifat klien sendiri bisa menjadi alasan penolakan penerjemah. Klien yang dirasa merepotkan atau terlalu menuntut tentu menghalangi penerjemah untuk menerima tawaran proyek lagi darinya. Penerjemah tidak seharusnya direpotkan oleh klien yang terlalu banyak menuntut, sering menghubungi di waktu yang tidak tepat (tengah malam misalnya), meminta revisi tanpa disertai alasan jelas, atau melanggar perjanjian yang dibuat sebelumnya.

    Sedang mengerjakan proyek lain
    Ketika penerjemah sedang fokus mengerjakan suatu proyek yang harus diserahkan secepatnya, penerjemah sebaiknya tidak menerima tawaran proyek baru. Proyek yang sedang dikerjakan adalah prioritas yang harus didahulukan. Deadline adalah hal yang sangat sensitif dan memengaruhi citra penerjemah.

    Bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan penolakan?

    Menyampaikan penolakan dengan bahasa santun
    Meskipun penerjemah menghadapi klien dengan tawaran yang sangat konyol atau sama sekali tidak masuk akal, penerjemah tetap harus menyampaikan penolakan dengan bahasa yang santun. Kalimat yang bernada menghardik atau terlalu memojokkan klien tidak sepantasnya diucapkan, sekonyol apapun tawaran proyek dari klien.

    Memberikan alasan yang jelas
    Saat menolak suatu tawaran, penerjemah juga harus menyertainya dengan alasan yang jelas. Alasan harus objektif dan dapat diterima oleh klien.
  • 0 comments:

    Posting Komentar