• Step by Step Negosiasi Harga dengan Klien

    Negosiasi harga dengan klien adalah tantangan awal yang cukup sulit bagi penerjemah lepas. Bekerja sebagai seorang pekerja lepas identik dengan seni menjual diri, yaitu penerjemah harus memahami betul berapa nilai/harga dari jasa profesional yang digelutinya dan cara menawarkannya kepada klien. Jika penerjemah pandai melakukan negosiasi dan mendapatkan bayaran layak sesuai yang dikehendakinya, penerjemah lebih termotivasi untuk mengerjakan suatu proyek dan hasilnya pun memuaskan. Ada beberapa langkah yang harus dijalani dalam melakukan negosiasi harga sampai ada kesepakatan.

    1) Memahami dan mengukur harga sendiri
    Penerjemah lepas perlu mengetahui standar harga yang cocok dan pantas untuk jasa profesionalnya. Semakin bagus terjemahannya, semakin pantas untuk mendapatkan bayaran lebih tinggi. Semakin tinggi jam terbang, semakin mahal pula harganya. Penerjemah dengan gelar akademik lebih tinggi tentu cenderung menghendaki bayaran lebih tinggi sesuai dengan tenaga dan waktu yang dikeluarkannya untuk menempuh pendidikan. Inilah poin pertama yang menjadi prinsip dalam setiap negosiasi harga. Jika penerjemah terus-terusan mau dibayar murah, seolah-olah tidak ada harga dirinya.

    2) Menentukan metode penghitungan tarif
    Penerjemah lepas pada dasarnya bisa dibayar berdasarkan volume pekerjaan (per karakter, kata, dan halaman), durasi (berapa jam yang dihabiskan untuk menyelesaikan suatu proyek), atau bahkan per proyek secara borongan. Namun, di pasar lokal, sangat jarang penerjemah lepas dibayar per jam. Tarif per jam lebih berisiko karena ada penafsiran subjektif terhadap waktu kerja antara klien dan penerjemah lepas. Untuk pasar lokal, tarif per karakter, kata, atau halaman lebih aman untuk diterapkan. Penerbit buku menggunakan tarif per karakter. Klien non-penerbit lazimnya menggunakan tarif per halaman atau kata. Tarif per halaman dengan ketentuan margin dan ukuran font yang sudah ditetapkan lebih populer dibandingkan tarif per kata. Setelah mentukan metode penghitungan tarif, penerjemah bisa menentukan tarif terendah yang bisa diterima untuk mengantisipasi negosiasi harga dengan klien sulit. Untuk menentukan batasan terendah, penerjemah bisa menghitung sendiri biaya kebutuhan hidupnya sehari-sehari, waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan proyek, dan seberapa pantas keahliannya dibayar.

    3) Memahami dan melakukan riset terhadap klien
    Sebelum menghadapi klien untuk negosiasi harga, penerjemah perlu memahami setiap detail kliennya. Negosiasi bukanlah perang atau kompetisi, melainkan kesepakatan untuk mencari solusi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak. Negosiasi tidak hanya berkaitan dengan harga karena penerjemah juga harus mencapai kesepakatan atas rincian dan detail proyek sekaligus deadline. Dengan memahami kliennya terlebih dahulu, penerjemah bisa mencapai kesepakatan dengan lebih mudah. Dengan melakukan riset kecil-kecilan, penerjemah bisa mengetahui siapa kliennya, latar belakangnya, sekaligus daya beli atau budgetnya sebagai pertimbangan dalam melakukan negosiasi nanti. Jika klien adalah perusahaan besar dengan anggaran yang ‘tidak terbatas’, penerjemah bisa memasang tarif tinggi. Perusahaan sendiri malah ragu dengan kualitas penerjemah jika penerjemahnya sendiri memasang tarif rendah di awal negosiasi.

    4) Melakukan negosiasi
    Jika penerjemah sudah mengetahui harga yang pantas untuk dirinya dan potensi kliennya, negosiasi pun siap dilakukan. Idealnya, kien bisa menyebut kisaran angka yang mereka sanggupi untuk sebuah proyek, sehingga penerjemah bisa mengetahui standarnya. Jika klien bertanya lebih dahulu, penerjemah bisa menanggapinya dengan menanyakan kisaran budget yang sudah disiapkan klien. Jika penerjemah ‘dipaksa’ menyebut angka terlebih dahulu, penerjemah bisa memasang tarif tertinggi dengan mempertimbangkan harga keahliannya sendiri. Tarif sebaiknya fleksibel dan bisa disesuaikan dengan bobot atau tingkat kesulitan pekerjaan.

    5) Meminta tanda jadi
    Setelah negosiasi selesai, penerjemah bisa meminta tanda jadi kesepakatan. Meminta pembayaran di muka adalah cara terbaik untuk menghindari penipuan atau gagal bayar. Namun, aturan di sebagian perusahaan tidak memungkinkan untuk pembayaran uang muka sebagai tanda jadi. Sebagai gantinya, penerjemah bisa mengirim invoice untuk menagih pembayaran.
  • 0 comments:

    Posting Komentar