• Risiko Menunda Pekerjaan dan Melanggar Deadline bagi Penerjemah Lepas

    Penerjemah lepas adalah satu-satunya yang bertanggung jawab penuh atas pekerjaannya, termasuk hal sensitif yang berkaitan dengan deadline. Setiap penerjemah pasti pernah merasakan bagaimana dikejar-kejar deadline dan ditagih hasil pekerjaan secara terus-menerus oleh kliennya. Dikejar deadline memang menjadi salah satu hal yang ditakuti penerjemah lepas, termasuk semua pekerja lepas lainnya, sampai mereka pun rela begadang untuk tuntaskan pekerjaan. Hal semacan ini seharusnya bisa dihindari jika penerjemah tidak menunda-nunda pekerjaan yang harus segera diselesaikan sejak awal.

    Kebiasaan menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk yang tidak boleh dibawa ke dunia freelance. Sikap menunda ini disebabkan oleh banyak faktor, seperti terlalu santai, menyepelekan pekerjaan yang diterima dari klien, atau manajemen waktu yang buruk. Bahkan, ada alasan yang lebih konyol lagi, mereka memang sengaja menunda pekerjaan dan mengerjakannya saat sudah mendekati deadline karena merasa termotivasi untuk bekerja lebih cepat di bawah tekanan. Padahal, bekerja disertai stress dan panik akan berdampak buruk, baik jangka panjang atau pendek, dan pekerjaan hampir bisa dipastikan akan terlambat diserahkan pada klien yang sudah menunggu lama. Setiap penerjemah lepas pasti akan berpikir dua kali untuk menunda pekerjaannya jika mengetahui risiko menunda pekerjaan berikut ini.

    Merusak reputasi sendiri
    Reputasi baik adalah modal yang sangat berharga di dunia alih bahasa, terutama untuk memancing klien kakap dan bonafit dan dapatkan proyek-proyek besar. Terjemahan berkualitas dan nyaris sempurna seakan menjadi tidak ada nilainya jika terlambat diserahkan pada klien. Sekali penerjemah gagal memenuhi komitmen untuk serahkan pekerjaan sebelum deadline, klien pasti akan sungkan untuk menggunakan jasanya lagi karena waktu adalah uang bagi mereka. Kepuasan klien adalah hal yang sangat sensitif sekaligus berharga dalam bisnis jasa profesional. Jika sekali saja mereka kecewa, ketidakpuasan itu bisa berubah menjadi bencana bagi karier penerjemah. Jika mereka puas, mereka pasti merekomendasikan ke orang lain dan klien-klien baru pun berdatangan secara otomatis.

    Merusak kesehatan
    Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, bekerja di bawah tekanan hanya untuk mengejar deadline sangatlah tidak sehat, secara mental atau fisik. Saat penerjemah sudah menerima pekerjaan dari klien, pekerjaan harus segera dituntaskan tanpa menunggu mood atau dengan sengaja mengerjakannya saat mendekati deadline. Tidak sedikit penerjemah begadang semalam suntuk, tidak hanya satu atau dua kali tapi sudah menjadi kebiasaan. Begadang di malam hari, apalagi ditambah bekerja di bawah tekanan, sangatlah tidak sehat dan uang yang diperoleh dari kerja keras pun akhirnya terkuras hanya untuk berobat.

    Melewatkan peluang proyek lebih besar
    Saat penerjemah sedang sibuk bekerja di bawah tekanan dan ditawari klien lainnya untuk mengerjakan proyek besar senilai jutaan rupiah, mereka pasti akan takut mengambilnya karena masih ada tanggung jawab lain yang harus segera dituntaskan. Padahal, jika pekerjaan segera diselesaikan tanpa harus menunggu mood, setiap peluang untuk dapatkan proyek besar tidak akan terlewatkan. Penghasilan setiap pekerja lepas sangat tergantung pada berapa banyak proyek yang mereka dapatkan. Semakin banyak yang diterjemahkan, semakin besar penghasilannya.

    Penghasilan menurun
    Karena kebiasaan suka menunda-nunda pekerjaan, penghasilan penerjemah lepas bisa menurun drastis. Pekerjaan yang seharusnya bisa selesai dalam 1-2 hari saja bisa molor menjadi 1 minggu hanya karena penerjemah terlalu santai atau sengaja menunda untuk menunggu mood. Kesempatan untuk dapatkan proyek lainnya tidak didapatkan dan klien pun kapok memberi pekerjaan lagi karena tidak puas dengan pelayanannya. Bahkan, tidak jarang juga klien meminta potongan harga sebagai konsekuensi karena terjemahannya terlambat diserahkan padanya.
  • 0 comments:

    Posting Komentar