• Perkembangan Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Penerjemah

    Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence) di berbagai bidang kehidupan sangatlah bermanfaat bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi merupakan hal yang tidak bisa dihindari karena zaman selalu berubah dan perubahan adalah suatu kepastian. Namun, dibalik manfaat yang diberikannya, kecerdasan buatan ini juga berpotensi mengancam keberlangsungan profesi  profesional yang ditekuni orang untuk menyambung hidupnya. Sedikit menengok ke belakang, ada banyak sekali pekerjaan yang punah dan digeser oleh mesin karena teknologi berkembang pesat untuk memberikan solusi lebih murah dan cepat. Kecerdasan buatan tentunya memberikan dampak yang lebih besar lagi.

    Salah satu penerapan teknologi kecerdasan buatan di dunia alih bahasa adalah fitur baru yang ditanamkan di Google Translate, yaitu Nueral Machine Translation (NMT). Bahkan, alat interpreting otomatis juga sudah ditemukan. Pengguna hanya tinggal mengucapkan kalimat dan mesin akan menerjemahkannya langsung secara lisan layaknya seorang interpreter. Jadi, seorang traveler bisa mengatasi hambatan komunikasi saat berlibur ke negara lain yang bahasanya berbeda. Bagaimana dampaknya terhadap ketidakberlangsungan profesi penerjemah profesional? Perkembangan mesin penerjemah otomatis bukan tidak mungkin sepenuhnya menggantikan peran penerjemah, entah dalam waktu 5, 10, atau 15 tahun lagi. Kemungkinan lainnya, kehadiran mesin ini sulit menggeser peran penerjemah karena bahasa terlalu kompleks untuk diserahkan ke sebuah mesin, apalagi dengan mempertimbangkan banyak faktor-faktor lainnya di luar bahasa.

    Kemungkinan pertama, mesin penerjemah otomatis bisa sepenuhnya menggeser posisi penerjemah profesional. Perubahan ini bisa terjadi dalam 5, 10, 15 tahun atau bahkan lebih dan tidak ada kepastian karena masa depan sulit diprediksi. Sebagai perbandingan, kita lihat saja peningkatan kualitas Google Translate 5 - 10 tahun lalu dengan sekarang, terutama untuk Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Susunan bahasanya sudah cukup bagus dan mungkin sulit membedakan terjemahan hasil penerjemah profesional dengan mesin penerjemah otomatis. Meskipun susunan kalimatnya bagus dan tertata rapi, ini bukanlah indikator utama kualitas terjemahan karena konteks, tujuan, serta faktor budaya juga harus dipertimbangkan dalam menerjemahkan suatu teks.

    Dampak lainnya, sebagian pengguna jasa penerjemah dulu tidak enggan membayar jasa penerjemah, tetapi mereka sekarang hanya tinggal menggunakan aplikasi gratisan saja. Tipe pengguna/klien seperti ini biasanya hanya ingin memahami gambaran suatu teks secara umum untuk dipelajari terutama untuk kepentingan akademis, bukan untuk tujuan yang benar-benar penting atau urgen (misalnya, terjemahan dokumen korporat). Tetapi, klien yang ingin menerjemahkan dokumen penting (seperti dokumen legal yang tidak memberikan toleransi sedikit pun pada kesalahan terjemahan) atau dokumen yang sensitif (misalnya teks keagamaan) masih enggan menggunakan mesin penerjemahan gratisan dan mau mengeluarkan biaya lebih untuk jasa penerjemah.

    Nueral Machine Translation (NMT) adalah terobosan baru yang diterapkan dalam dunia alih bahasa. Teknologi ini menggunakan Artificial Neural Network (ANN) yang pada dasarnya memanfaatkan teknologi sistem saraf buatan untuk memahami struktur bahasa, dan menerjemahkan teks layaknya penerjemah (manusia). Teknologi ini dibuat untuk meningkatkan kualitas terjemahan otomatis sehingga diharapkan menjadi jauh lebih baik dari mesin tradisional sebelumnya. Jika teknologi ini memang berhasil memproduksi terjemahan jauh lebih baik, bukan tidak mungkin profesi penerjemah digeser dan hanya tinggal melakukan pekerjaan post-editing saja.

    Kemungkinan kedua, kita bisa beranggapan bahwa profesi penerjemah profesional tidak mungkin digantikan oleh mesin penerjemah otomatis sampai kapanpun. Jika ini harus terjadi, maka perlu waktu sangat lama, bisa 50 atau 100 tahun lagi. Perubahan di masa depan memang tidak bisa diprediksi sepenuhnya karena teknologi terus berkembang melampaui perkiraan manusia sebelumnya. Orang yang menyangkal perkembangan pesat pada teknologi mesin penerjemah otomatis bisa beranggapan bahwa terjemahan tidak hanya fokus pada struktur bahasa saja karena penerjemah juga harus mempertimbangkan konteks, bidang keilmuan, budaya, sekaligus penggunaan teksnya nanti. Meskipun strukturnya bagus, kualitas terjemahan tidak terjamin karena belum tentu makna disampaikan sesuai dengan konteksnya atau sesuai maksud penulis teks tersebut. Faktor budaya juga memengaruhi bagaimana suatu ungkapan atau istilah diterjemahkan ke bahasa sasaran. 
  • 0 comments:

    Posting Komentar

    ORDER VIA WHATSAPP