• Pertimbangan dalam Menilai Kualitas Terjemahan dengan Objektif

    Terjemahan, sebagai sebuah produk intelektual, memerlukan proses rumit dan tidak singat untuk menjamin kualitasnya. Terjemahan berkualitas, dilihat dari aspek bahasanya (akurat, berterima, dan bisa dipahami dengan baik oleh pembacanya), tidaklah bisa dihasilkan sembarang penerjemah. Terjemahan berkualitas di atas rata-rata hanya bisa dihasilkan penerjemah yang sudah memahami seluk-beluk dunia penerjemahan dan memiliki jam terbang tinggi (karena menghadapi begitu banyak jenis teks). Sebaliknya, untuk memutuskan apakah suatu terjemahan berkualitas atau tidak, parameternya tidaklah semudah menilai salah atau benar seperti dalam hitungan matematika. Dalam ilmu matematika, 1 + 1 = 2 adalah benar tidak bisa dibantah, tapi bahasa bersifat lebih kompleks.

    Bahasa memiliki pendekatan berbeda dengan ilmu pasti yang tidak sulit untuk menentukan benar atau salahnya secara tegas dengan rumus tertentu. Terjemahan adalah suatu proses berkesinambungan dan rumit yang pada intinya bertujuan untuk menyampaikan suatu pesan atau informasi dari teks sumber secara tepat dan utuh ke teks sasaran. Jika 10 orang ditanya berapa hasil dari 1 +1, mereka pasti serentak menyebutkan angka 2. Dalam penerjemahan, hasilnya tidak bisa disebutkan secara pasti seperti itu. Jika 10 orang tersebut diminta untuk menerjemahkan suatu teks yang sama, maka didapatkan 10 terjemahan dengan versi berbeda. Untuk menentukan seberapa berkualitasnya suatu terjemahan (terlepas dari beragam versi terjemahan yang ada), keakuratan tidak bisa ditawar-tawar (Simatupang 1999/2000:134). Dengan menekankan aspek kesepadan makna (semantic congruity), terjemahan bisa dianggap merepresentasikan informasi atau pesan dari teks sumber secara utuh dan akurat meskipun berbeda struktur permukaannya (surface structure) karena faktor terpenting adalah kesamaan struktur dalam (deep structure). Dengan kata lain, sepuluh versi terjemahan dengan perbedaan cara pengungkapan maupun struktur kalimat bisa diterima asalkan kesepuluh versi tersebut mampu menyampikan informasi yang sama secara utuh.

    Kenapa sepuluh penerjemah bisa menghasilkan sepuluh versi terjemahan berbeda dari satu teks yang sama? Setiap penerjemah pada dasarnya akan memilih suatu kata yang menurutnya paling cocok untuk merepresentasikan makna dalam teks sumber dengan menerapkan metode atau strategi penerjemahan yang palling efektif dan sesuai berdasarkan kemampuan dan pemahamannya masing-masing. Proses penerjemahan sendiri tidaklah berkaitan dengan satu bidang ilmu saja, yaitu bahasa. Penerjemah perlu memahami dengan baik kaidah ilmu yang relevan dengan teks sumber yang sedang digelutinya. Karena tanpa memahami suatu ilmu dengan benar, terjemahan yang dihasilkan pun pasti tidaklah akurat. Untuk menentukan kualitas terjemahan, selain memahami ilmu linguistik beserta teori penerjemahan, diperlukan juga pemahaman mengenai ilstilah-istilah khusus terkait bidang ilmu tertentu.

    Keakuratan terjemahan dari kesetiaan pada teks sumber (fidelity to the source text) adalah faktor utama yang perlu diperhatikan. Terjemahan yang baik haruslah akurat atau setia pada teks sumbernya tanpa harus terkesan kaku dan terasa janggal saat dibaca. Aspek keakuratan ini tidak bisa ditawar terutama dalam penerjemahan teks hukum yang menuntut penerjemahnya untuk memperhatikan setiap kata demi kata tanpa menyisakan satu kesalahan pun yang pada akhirnya memengaruhi perbedaan interpretasi pada teks terjemahannya. Salah tafsir sedikit saja akan menjadi hal yang sangat fatal dalam terjemahan teks sensitif seperti ini. Yang menjadi tolok ukur utama dalam menilai kualitas terjemahan adalah kesepadanan makna antara teks sumber dan teks sasarannya. Secara sederhana, terjemahan bisa disebut salah apabila ada distorsi makna yang berakibat pada salah tafsir.
  • 0 comments:

    Posting Komentar

    wa